Galery

Galery
Mengintip Resistensi Jajan Pasar

Mengintip Resistensi Jajan Pasar

Serabi Jawa, setia menanti kedatangan para penikmatnya (Sumber foto: www.rembangtv.com)
Jajan pasar,  bak mutiara yang tersembunyi di pasar tradisional. Sejak dahulu, hingga sekarang, jajan pasar tetap menjadi pesona yang tidak tergantikan. Muka boleh berubah keriput, ruang boleh berpindah tempat, hingga mata uang bebas beralih nilai, namun jajan pasar tetap jajan pasar. Ia tetap menjadi primadona bagi penikmatnya. Nuansa kehangatan, akrab, dan keceriaan tetap terpancarkan dari rona jajan pasar. 

Jajan pasar memiliki dua barisan penikmat. Para Penjaja kerap kali terpikat dengan citarasa jajanan maknyus ini. Inilah barisan penikmat fisik. Selanjutnya adalah mereka yang menggunakan jajan pasar untuk instrumen sesaji dengan harap mendapat keselamatan Sang Pencipta, adalah barisan penikmat simbolik. Dua penikmat ini saling berdampingan dengan harmoni tanpa sekalipun saling sindir apalagi merendahkan jajan pasar itu sendiri.

baca selanjutnya... 
Kultur jaringan Persemaian Permanen BPDAS-PJ

Kultur jaringan Persemaian Permanen BPDAS-PJ

Kultur jaringan Persemaian Permanen BPDAS-PJ adalah laboratorium mini yang kegiatannya untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan tanaman kayu-kayuan, MPTS, dan penghijauan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik. Bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali. Berikut ini gallery kultur jaringan Persemaian Permanen BPDAS-PJ.



























Layanan Bibit Persemaian Permanen  BPDAS-PJ

Layanan Bibit Persemaian Permanen BPDAS-PJ

(Bunner skema permohonan bibit yang terpampang di lokasi  Persemaian Permanen  BPDAS-PJ, Dok. Hasil Kunjungan Lapangan, Selasa 14 Februari 2017) 

Kementerian Kehutanan, melalui Pengelola Administrasi Persemaian Permanen  BPDAS-PJ, berkomitmen melayani kebutuhan bibit untuk hutan rakyat. Beragam jenis bibit tersedia di sini. Jika Anda berminat, cara mendapatkan bibit tanaman hutan ini cukup mudah. Berikut langkah-langkah permohonannya.


Menurut Heri Purwanto, Staf Pengelola Teknis  Persemaian Permanen  BPDAS-PJ, ada lima tahapan yang harus dilakukan dalam permohonan  bibit di PP BPDAS-PJ. Pertama, mengajukan proposal permohonan bibit ke BPDASHL Pemali Jratun. Proposal harus  mencantumkan permohohan jenis dan jumlah bibit , koordinat tempat lokasi penanaman, dan contact parson (telp hp). Kedua, proposal akan diseleksi secara selektif untuk mendapatkan konfirmasi dari BPDASHL Pemali Jratun. Ketiga, proposal yang lolos seleksi, pemohon akan dihubungi pihak PP BPDASHL Pemali Jratun untuk segera pengambilan bibit. Pada saat pengambilan bibit, pemohon harus mengisi blangko permohonan dan surat pernyataan dan juga menyertakan fotocopy kartu tanda penduduk. 

(Lokasi kantor Persemaian Permanen  BPDAS-PJ yang berada di Bangsri, Jepara, Jawa Tengah.
Dok. Hasil Kunjungan Lapangan, Selasa 14 Februari 2017) 
Pemohon bibit sedang dilayani pihak  Persemaian Permanen  BPDAS-PJ.
Dok. Hasil Kunjungan Lapangan, Selasa 14 Februari 2017) 
( Pihak Persemaian Permanen  BPDAS-PJ sedang memilih bibit di demplot, sesuai dengan blangko permohohan jenis dan jumlah bibit yang di ajukan. Dok. Hasil Kunjungan Lapangan, Selasa 14 Februari 2017 ) 

( Pihak Persemaian Permanen  BPDAS-PJ sedang memilih bibit di demplot, sesuai dengan blangko permohohan jenis dan jumlah bibit yang di ajukan. Dok. Hasil Kunjungan Lapangan, Selasa 14 Februari 2017 )
( Pihak Persemaian Permanen  BPDAS-PJ sedang menaikkan bibit di mobil, sesuai dengan blangko permohohan jenis dan jumlah bibit yang di ajukan. Dok. Hasil Kunjungan Lapangan, Selasa 14 Februari 2017 ) 

Sumber: www.wartarembang.com

Demplot dan Rekayasa Mentalitas Petani Hutan Kita

Demplot dan Rekayasa Mentalitas Petani Hutan Kita

(Bibit pohon Sengon yang sudah berkayu dengan setinggi lebih dari 30 cm dengan media polycup cocopit di Rumah Kaca Persemaian Permanen  BPDAS-PJ. Dok. Hasil Kunjungan Lapangan, Selasa 14 Februari 2017) 

Pagi itu, Mas Agus Riyanto,  Staf Pengelola Administrasi Persemaian Permanen  BPDAS-PJ, tampak gelisah. Bagaimana tidak, hasil penyemaian bibit di Ruang Rumah Kaca tidak banyak dilirik masyarakat.  Ribuan bibit hasil semai rumah kaca harus parkir dengan sabar. Para petani cenderung cenderung tidak tertarik ragam bibit dengan media tray semai ini.  Petani lebih suka bibit yang tersedia di polybag. Menurut mas Agus, para petani masih belum yakin dengan bibit hasil produksi rumah kaca dengan media tray.

Agus menuturkan, para petani kerap tidak yakin dengan bibit dari produksi benih rumah kaca. Menurut Staf Pengelola Administrasi ini, bibit  semai yang dihasilkan dari rumah kaca relatif stabil dari kontaminasi bakteri dan jamur. “Jika bibit semai ini sudah di over spin pada media yang tepat, pertumbuhannya jauh lebih cepat dari bibit semai dari polybag, hanya saja petani belum yakin tentang hal itu.”, tandasnya. Perihal ini, Agus menduga tidak hanya persoalan akses informasi terhadap bibit semai rumah kaca. Agus meduga, ada mental unik, yaitu terbiasa manja untuk dilayani saat berada di Persemaian Permanen  BPDAS-PJ.

(Agus Riyanto, Staf Pengelola Administrasi Persemaian Permanen  BPDAS-PJ, sedang mengobservasi bibit semai
dengan media polycup cocopit di Rumah Kaca. Dok. Hasil Kunjungan Lapangan, Selasa 14 Februari 2017) 
Memang, jauh sebelumnya, persolaan tentang mentalitas bangsa Indonesia dapat ditilik pada uraian  Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat. Autokritik dari dua tokoh di atas tampaknya masih relevan terhadap potret mentalitas petani kita, yaitu mental karakter yang lemah dan suka cari enaknya saja. Padahal keberadaan Persemaian Permanen  BPDAS-PJ tidak hanya melulu tempat distribusi dan pengambilan bibit saja. Sudah saatnya Persemaian Permanen  BPDAS-PJ menjadi tempat belajar bersama, dalam budidaya bibit untuk hutan rakyat kita.

Selain melakukan over spin, dalam menyikapi stok semai bibit yang ada di Rumah Kaca yang tidak dilirik petani, pihak Persemaian Permanen  BPDAS-PJ juga sudah membuat demplot (demontration plot). Demplot ini akan  difungsikan untuk membangun struktur pengetahuan petani, bahwa semai bibit yang hasil dari Rumah Kaca, tidak kalah hasil semai bibit konvensional. “Melihat permintaan bibit hutan rakyat yang semakin meninggi, tindakan semai bibit kultur jaringan dan media polycup cocopit  rumah kaca, tetap kami lakukan. Hal ini semata-mata untuk memenuhi permintaan bibit agar hutan rakyat di Jawa Tengah ini, tertanami semuanya,” pungkas Agus Riyanto.

Sumber: www.wartarembang.com

Menyemai Pohon Lerak

Menyemai Pohon Lerak

(  Ari Puspitaningrum, Kepala Kultur Jaringan PP BPDAS-PJ,
tampak sedang mengobservasi  hasil multiplikasi pohon lerak. Doc. Hasil Kunjungan Lapangan, Selasa, 14  Februari 2017) 

Persemaian Permanen Kemenhut Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Pemali Jratun Jepara, baru-baru ini sedang membudidayakan pohon lerak melalui kultur jaringan di laboratorium terbatas. Budidaya benih melalui kultur jaringan ini menjadi jawaban dari kelangkaan pohon lerak di hutan Indonesia. Terlebih, pohon lerak menjadi bahan deterjen tradisonal yang ramah lingkungan.

Sapindus rarak De Candole  atau  Mukorossi,  atau dikenal juga sebagai rerek atau lamuran adalah tumbuhan yang kegunaan bijinya dipakai untuk deterjen tradisional. Langkah ini menjadi kabar gembira bagi pengrajin batik, karena sebentar lagi para pengrajin dapat budidaya pohon lerak untuk kemudian di buat menjadi bahan deterjen tradisional untuk batik. Karena batik biasanya dianjurkan untuk dicuci dengan lerak karena dianggap sebagai bahan pencuci paling sesuai untuk menjaga kualitasnya (warna batik).

Menurut Mbak Ari Puspitaningrum, Kepala Kutlur Jaringan Persemaian Permanen BPDAS-PJ, ada enam langkah teknik perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan  pohon lerak. Pertama, pembuatan media. Kedua, menginisiasi atau pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Dalam inisiasi, bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas. Ketiga, sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril. Keempat, melakukan multiplikasi yaitu kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kelima, pengakaran atau fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pada proses ini pula, pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Dan terakhir, aklimatisasi atau kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pada tahap inilah, pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup.

Langkah Persemaian Permanen BPDAS-PJ dalam melakukan penyemaian kulturl jaringan pada pohon lerak, sangatlah diharapkan. Karena pada hari ini, limbah deterjen telah menjadi penyebab terkontainasinya air yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan ataupun perkembangan tumbuhan.

Sumber: www.wartarembang.com